Sebenarnya Kita Sedang Kehilangan Yaitu Rasa Kehilangan

Kapaljudilounge – Entah dibuka sejak kapan, minimarket dan supermarket hadir di dekat kita. Yang jelas mereka bukanlah sesuatu yang baru, terutama untuk kalian yang bermukim di wilayah perkotaan. Di zaman yang menuntut serba gampang dan cepat seperti ketika ini, pasti akan menciptakan minimarket dan supermarket lebih dipilih ketimbang pasar tradisional. Dimulai dari ketersediaan barang yang tidak kalah lengkap, kesucian dan kenyamanan tempat, sampai sistem pembayaran yang lebih variatif dan praktis telah pasti diperoleh konsumen ketimbang melakukan pembelian barang di pasar tradisional Sebenarnya Kita Sedang.

Ada tren negatif yang sudah dilangsungkan sejak lama, hadir dari minimarket dan supermarket tersebut sendiri. Yaitu pendonasian duit kembalian, terutama uang koin. Dengan dalil ketidaktersediaan duit koin guna kembalian, seringkali petugas kasir menawarkan untuk konsumen guna mendonasikan saldo kembalian. Yang tanpa disadari, sebetulnya itu ialah sebuah pelanggaran. JUDI BOLA

Sebenarnya Kita Sedang Kehilangan

Undang-Undang No. 8 tahun 1999 mengenai perlindungan konsumen, pada pasal 15 mengaku bahwa pelaku usaha jangan menawarkan barang/jasa untuk konsumen dengan teknik memaksa yang dapat memunculkan gangguan jasmani maupun psikis. Sebentar, apakah menawarkan pendonasian saldo kembalian tadi tersiar memaksa? Yang jelas, seharusnya pihak minimarket atau supermarket komit terhadap segala proses jual beli, tergolong dalam hal pembayaran. Masa duit koin aja ngga dapat nyediain.

Tidak melulu itu, selama tahun 2010-an, terdapat tren negatif yang tidak jauh berbeda. Yaitu, pengembalian duit koin yang diganti dengan permen. Alasannya masih sama, sebab ketidaktersediaan duit koin tersebut. Pernah mengalami? Akhirnya pada tahun 2016, Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), tidak mengizinkan praktek tersebut sebab permen dan barang beda tidak tergolong ke dalam perangkat tukar yang sah.

Ada yang berpikir bahwa pengembalian duit koin dengan permen tersebut bagus. Dapat menghidupkan kembali kebiasaan barter yang telah hilang, namun pertanyaannya saat saya melakukan pembelian barang dengan harga Rp.5.000. Sementara uang yang saya miliki Rp.4.700, apakah saldo Rp.300-nya dapat saya ganti dengan permen?

Berbicara masalah perangkat tukar, mengingatkan saya pada masa jauh sebelum kita memakai uang kertas laksana hari ini. Manusia telah melakukan kegiatan tukar menukar baik berupa barang maupun jasa. Namun tidak memakai uang laksana yang kita pakai sekarang, terdapat istilah barter yang nilai tukarnya masih dirasakan ralatif. Mulai dari garam, padi, ataupun bahan pangan lainnya. Namun, seiring pertumbuhan zaman mulailah diberlakukan perangkat tukar yang memiliki nilai tukar standar. Yang menciptakan relatifitas penukaran telah tidak terdapat lagi. Dimulai dari koin berbahan dasar emas dan perak atau dalam istilah islam anda kenal dinar dan dirham. Sebelum akhirnya hadir uang kertas.

Terdapat sejumlah versi sejarah yang menyatakan tentang asal-usul duit kertas, salah satunya terdapat yang melafalkan bahwa duit kertas kesatu berasal dari Tiongkok, yaitu pada masa Dinasti Tang pada tahun 618 masehi. Di ketika bangsa beda masih berat-berat membawa koin emas, bangsa Tiongkok sudah memakai kertas sebagai garansi penyimpanan koin-koin emas mereka, yang lantas disepakati menjadi perangkat tukar yang sah pada ketika itu. Akibat tren tersebut, akhirnya masing-masing negara juga memberlakukan sistem yang sama, penerbitan sertifikat kertas sebagai penjamin emas. JUDI BOLA

Rasa Kehilangan

Di Indonesia juga demikian, pemakaian uang kertas sebagai perangkat tukar mulai dilangsungkan saat penjajahan Belanda, Belanda mengeluarkan sertifikat-sertifikat yang juga bermanfaat sebagai garansi penyimpan emas. Meskipun secara material kertas bernilai rendah dikomparasikan dengan emas, tetapi secara nominal dapat lebih berharga sebab adanya kesepakatan dari pemerintah dan masyarakat. Hingga ketika ini duit kertas masih menjadi perangkat tukar yang sah di semua dunia Sebenarnya Kita Sedang.

Dengan hadirnya duit kertas, yang dirasakan sebagai puncak dari lahirnya paham matrealisme, tanpa disadari sebetulnya kita telah dipaksa guna kehilangan harta yang anda miliki sebelumnya yaitu emas atau perak. Yang lantas dikonversi menjadi kertas sebagai garansi penyimpanan emas atau perak tersebut. Tidak bermaksud menyalahkan insan terdahulu yang menyepakati urusan itu, namun maksudnya, insan macam apa yang mau-maunya menukarkan emas dan perak dengan lembaran kertas yang andai terkena air saja akan bobrok dan hilang tak berbekas. Berbeda dengan emas dan perak, walapun dihanguskan tidak bakal memengaruhi wujud aslinya sebagi logam, secara berat tidak bakal berkurang yang pasti saja secara nilai juga tidak bakal terpengaruh. Emas satu gram andai dibakar, ya bakal tetap satu gram dan tidak akan pulang menjadi arang atau abu.

Atau saya curiga sebetulnya di samping keturunan Adam dan Hawa, manusia pun keturunan Qorun si kaya raya yang gemar menimbun harta? Tak hendak kehilangan harta yang dia miliki kemudian ditimbunlah harta tersebut. Hampir serupa dengan kelaziman kita, berlomba-lomba menyimpan uang uang di bank dengan dalil keamanan dan kembali hal kemudahan. Kita bakal dibekali kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) supaya bisa memungut uang bila dibutuhkan dimanapun, kapanpun tanpa mesti mengunjungi pihak bank. JUDI BOLA

Perangkat Tukar Yang Sah

Dengan dalih kemudahan, akhirnya seluruh terjadi. Hari ini kita memakai kertas bernominal sebagai perangkat tukar yang sah diseluruh dunia. Dari mulai membeli keperluan sehari-hari, menunaikan iuran, atau transaksi lainnya. Tidak lumayan sampai situ, seiring dengan pertumbuhan zaman, cara pembayaran juga semakin variatif. Hari ini anda kenal dan tidak asing lagi dengan cara pembayaran non-tunai atau e-money. Kita digaji oleh perusahaan atau dimana pun lokasi kita bekerja banyak sekali sudah dengan teknik transfer bank. Kita menunaikan tagihan listrik, air, telepon, atau tagihan tagihan lainnya sudah dapat dengan teknik non-tunai.

Dengan hadirnya cara pembayaran memakai e-money, secara tidak sadar sebetulnya kita pulang dipaksa guna kehilangan dana yang kita miliki, dan entah kemana larinya uang jasmani kita. Aman di bank? Yakin uang anda benar-benar tidak beralih tangan? Yakin uang anda tidak dipakai untuk kepentingan pinjaman bank? Tapi bakal lebih perumahan lagi andai kita kupas aliran dana yang kita simpan di bank yang lantas digantikan dengan kartu tipis dan angka digital di dalam mesin. Yang jelas dengan hadirnya e-money, pada dasarnya hari ini kita sudah kehilangan rasa kehilangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *